Rabu, 27 Juli 2011

8. Raihan, Malam Ini Tidak Ada Bintang

Kukatakan pada Makku. "Aku ingin berjumpa dan berbicara dengannya sehari penuh. Karena besok adalah hari kematianku"

Tidak ada yang akan mati lebih bahagia dariku. Karena segala hasrat seumur hidupku telah kupenuhi sehari menjelang kematian. Mungkin para syuhada dan pezina yang mati dirajam dengan senyum karena segala dosanya telah dihapuskan bersama butiran-butiran batu yang menghantam tengkoraknya adalah orang-orang yang berbahagia bersamaku.

Aku duduk mengobrol dengannya. Menanyakan segala perjalanan hidupnya sejak terakhir kami berjumpa. Aku mengenang masa indah saat di meunasah desa Paya Cut. Tidak ada yang memotifasiku untuk berjalan kaki sejauh dua kolometer di malam buta untuk shalat tarawih kecuali harapan dia akan datang. Aku tak parnah libur ke meunasah selama 30 malam meski kutahu sepanjang Ramadhan dia hanya datang 4 sampai 6 kali. Karena aku tak tahu malam apa saja dia akan datang, kiputuskan aku tidak boleh absen. Semua demi kamu, Raihan.

Menanti dengan harap dan cemas seperti kualami di setiap malam-malam Ramadhan rupanya dialami juga semua muslim di seluruh dunia. Bedanya, mereka menanti kedangtanga  Lailatul Qadar, aku menunggu tibanya kekasihku.

Raihan, malam ini tidak ada bintang. Kulit otakku penuh wajahmu. Malam ini begitu dingin. Tidak ada satupun bunyi kendaraan. Tahukah kamu aku mendengar suara burung-burung.

Gedung-gedung di sini senyap seolah menunggu sesuatu. Aku tak tau apa itu. Tapi pepohonan di depan rumahmu kelihatan lebih ramah. Mereka menari-nari dengan perlahan mengikuti hembusan angin.

Raihan rumahmu adalah taman surga. Biarkan saja semuanya menuju Firdaus. Aku ingin tetap di sini, di taman halaman rumahmu. Menunggumu keluar dengan baju pengantin bewarna putih. Kunanti wajahmu hadir kembali di hadapanku.

Raihan, mataku rindu menatapmu kembali. Raihan aku sepi sendiri di sini. Aku tidak sanggup. Tidak sanggup saat membayang kan engkau sedang lelap bersama anak-anak dan suamimu di sebuah rumah bahagia.

Aku di sini seperti cacing yang yang dilumuri abu dapur. Setiap malam aku keluar menantang ganasnya udara malam yang menikam hingga sela-sela rusuk.  Aku mencari wajahmu di atas langin yang kelihatan hampa. Bila ke laut aku menungu-nunggu bila-bila wajahmu timbul dari dasar samudera.

Raihan, aku sengsara. Pada siapa aku mengadu kalau bukan pada namamu yang telah menyatu bersama segala ingatanku. Namamu telah menguasai seluruh memori pikiranku.

Mentra 58, 28 Juli 2011
»»  READMORE...

7. Provokasi


Ceritakan saja kejelekan seseorang yang dianya benar-benar kamu tidak suka. Maka saya langsung membenci orang itu. Bahkan bila tujuanmu murni untuk memprovokasi, sayapun akan langsung terpengaruh.

Mak sering menceritakan sisi-sisi negatif tentang Raihan dan keluarganya karena tidak suka melihat saya selalu menangis hingga kehabisan tenaga setiap setelah bertemu Raihan. Setiap pulang berjumpa Raihan saya langsung mengunci diri di dalam kamar. Terkenang sangat indah bersama dengannya beberapa waktu tadi dan langsung menangis sejadi-jadinya.

Saya tidak tau kenapa begitu. Saya menduga karena roh saya telah tau saya akan menderita seumur hidup sebab tidak ditakdirkan menjadi pasangannya.

Di kamar tempat saya mengunci diri dan menangis sejadi-jadinya beberapa tahun ke depan Raihan menyisir rambutnya yang luar biasa panjang. Malam itu pulang dari Pidie usai Basic Training PII. Tidak mungkin saya mengantarnya langsung ke rumah karena kami tiba di Bireuen telah malam. Jadi dia menginap satu malam di rumahku.

Saat dia sedang menyisir rambut Mak kebetulan masuk. Mak terkejut dan sangat kagum melihat rambut Raihan yang sangat panjang. "Ya Allah, panyang that ök dih i dara nyoe" mak setengah berteriak, setengah histeris.

Raihan, kukagumi kecantikanmu. Kupuja keanggunanmu sampai aku mati. Kusimpan kenangan-kenangan indah tentang dirimu. Aku setia mencintaimu sampaiku mati.
»»  READMORE...

Minggu, 17 Juli 2011

5. Aku Takut Mimpi Kamu

Kalau malam tiba aku takut untuk tidur. Aku takat akan bermimpi tentang kamu. Yang sebenarnya kutakutkan adalah ketika terbangun dari mimpi. Satu lagi, yang kutakutkan, adalah akhir dari mimpi. Biasanya, akhir mimpi, selalu menakutkanku, menyakitkan. Walau apapun akhir mimpi, ketika terbangun, selalu membuatku gelisah, sakit sekali, tapi tak tau sakitnya di mana. Allah, saya selalu tersiksa.

Suatu malam aku bermimpi Raihan duduk berdua dengan Ibuku. Aku melihatnya dan yakin bahwa Ibu mencoba merayu Raihan untuk menerimaku sebagai suami. Dalam mimpi itu Raihan belum menikah. Dia hampir akan menikah, tapi pertunangannya batal. Terdengar olehku Ibu berkata padanya.
                "Menikahlah dengannya, jangan khawatir meski dia sudah beristri." Maksud Ibu, beliau yakin cintaku kepadanya akan sepenuhnya hingga tak sedikitpun tersisa untuk istriku.
                Bahkan aku rela menceraikan istriku bila Raihan menerimaku sebagai suami, Ibu. aku ingin lebih baik Ibu menyampaikan kalau aku akan menceraikan isteriku. Agar Raihan semakin mantap menerimaku.
                Setelah ibu selesai berbincang dengan Raihan, aku mencari-cari kekasih hatiku itu di sekitar pondok tempat Ibu berbincang tadi. Sesuatu memberitahuku Raihan berada di rumah Kakekku. Aku ke sana menemui para penghuni rumah. Aku tidak dibolehkan menjumpai Raihan sebelum sungkeman denga Kakek dan Nenek. Terlebih dahulu aku meraih tangan ayahnya Ayahku, Ampon Banta Leman yang biasa kami panggil Ampon Nek. Aku mencium tangan beliau yang sebenarnya telah Almarhum. Setelah mencium tangannya, beliau memintaku mencium pipi kanannya, saat mencum pipi kanannya, aku melihat segumpal keci darah yang kelihatan mengeras, tapi masih merah segar dekat telinga beliau. Saat mulutku dengan mulut beliau mendekat waktu menarik wajahku, beliau sempat memasukkan sirih yang sedang beliau kunyah kedalam mulutku. Aku mengecap isi mulutku itu, terasa manis air pinangnya yang telah memerah. Apa makna itu? aku masih bertanya-tanya. Mungki sebagai syarat dari belau agar dapat aku menemui Raihanku.

Lalu aku menemui Nenek yang duduk meluruskan dua kaki dan menggempit keduanya sedang beliau menyiapkan bakong asoe untuk disisipkan antara gusi dan kulit dalam bibirnya yang biasa dilakukan orang tua. Setelah mencium tangan Nenek, Raihan dipersilakan naik tangga dekat Nenek duduk dan menemuiku.

Allah, aku menjumpai Raihan. Bagaimana perasaanku, tak bisa kuungkapkan! Jantung hatiku mengenakan jilbab segi empat tipis bewarna merah jambu. Bajunya kombinasi garis-garis warna hitam biru dan hijai, dikit merah dengan warna dasar putih. Rok kembangnya bewarna merah jambu juga. Ya Allah, dia sangat anggun. Bidadarimu tidak ada satupun yang menandingi kecantikannya. Ya, Allah, simpan saja bidadari-bidadari-Mu, di surga, aku mau bersama Raihanku saja.

Aku mengajaknya kencan, saat sedang berjalan bersama akan memasuki sebuah mall, aku menyandarkan bagian kanan kepalaku di bahu kanannya. Dia memiliki tinggi sama denganku karena sedikit dibantu sepatu tinggi. Nyaman sekali. Aku sadar tia tidak nyaman dengan ini. Aku tak bergeming. Dalam hayalanku selalu, aku hanya akan bisa bersandar seperti ini padanya kelak bila dia tua dan suaminya telah mati. Tapi ternyata aku bisa melakukan ini saat ini, saat dia masih jelita dan aku masih muda.
                Aku sadar akan beresiko besar menyandarkan kepala di bahunya saat ini. Tapi aku tak mau menghentikan tindakanku karena kutahu dalam setiap mimpi dan renunganku, aku menginginkan situasi seperti ini. Raihan, andak kau tahu besarnya cintaku padamu.
                Menuju warung makan di sebuah warung kelas bawah di dalam mall, yang tampaknya di sana, Raihan sidah terbiasa makan di sini, aku teringat tidak bawa rokok. Aku berfikir ingin permisi keluar gedung cari rokok karena di warung di dalam gedung mall, harga rokok mahal. Tapi aku tak ingin meninggalkan Raihan. Entah kenapa aku sadar momen ini hanya sementara, jadi tidak ingin aku mensia-siakannya.
                Saata Raihan memesan dua nasi aku baru sadar perutku belum lapar. Memesan kopi dan merokok saja sambil menatap belahan jantungku adalah lebih efektif bagi saat-saat yang sangat langka ini, pikirku. Aku ingin membatalkan saja nasi untukku dan biar nasi dipesan satu porsi saja buatnya. Kalau ku katakan dengan suara rendah, aku yakin koki dan pelayan tidak akan atau pura-pura tidak dengar. Bukankah itu siasat mereka untuk mencari uang.? Maka berteriaklah aku mengatakan agar nasinya satu porsi saja. Raihan sangat malu dengan tindakanku yang tidak sopan dan membuatnya sangat malu. Dia menginjak kakiku dengan ujung tumit sepanya yang runcing. Aku menjerit dan terbangun.

Aku terkenang saat Raihan sakit saat Latihan Kepemimpinan di Sigli. Aku membelikannya nasi, tapi dia tidak memakannya. Kenapa waktu itu aku sangat bodoh dan tidak teringat untuk membeli makanan lain seperti sate dan bakso setelah menemukannya tidak selera makan nasi. AKu bodoh, aku ceroboh, akalku pendek, akalku sempit. Aku menyesal, aku menyesal sekali. Aku sangat menyesal.

Aku menyesal kenapa tidak masuk ke ruang saat dia berbaring sakit di kamar peserta. Aku menyesal kenapa aku hanya mengintipnya saja dari balik pintu. Aku menyesal tidak masuk dan mencoba mengobrol dan menghiburnya. Aku menyesal sekali. Tapi, setidaknya, hai belahan hati, kini kamu adalah kader PII, sama seperti diriku.
                Mencintaimu adalah masalah sekaligus anugerah bagiku, sekaligus masalah. Aku tidak bisa mensyukuri cinta ini karena hatiku sendiri sebagai bagian dari 'syukur' itu sendiri. Sama seperti aku tidak bisa keluar dari masalah ini, sebab, diriku sendiri adalah bagian dari masalah itu sendiri.
                Memang benar adanya, cinta sejati itu tidak membutuhkan badan. Cinta sejati menemukan esensi, bukan bergulat bersama eksistensi.
                Raihan, memang surga telah kumasuki sebelum bumi ini digulung, kalau saja kau hidup bersamaku.

»»  READMORE...

4. Jawa, Negeri di Awan

"Tajak Beutroh, ta eue beu deueh" kata seniman Aceh, Rafly. Maksudnya, pergilah hingga tiba dan coba memandang hingga benar-benar melihat. Agar, segala sesuatu tidak sebatas diduga, tidak segera percaya dari apa orang kata dan tidak sembarang berasumsi. Maka pesannya adalah dengan mendatangi sendiri sumber berita hingga benar-benar tiba dan melihatnya sendiri dengan mata kepala. Dengan itu, baru bolehlah kita menilai sesuatu.

Jawa adalah bangsa yang mendapatkan stigma negatif bagi kalangan masyarakat Aceh selama konflik (1972-2005?). Karena, masyarakat Aceh menganggap pemerintah pusat hanya berpihak pada masyarakat Jawa. Juga, karena mereka menganggap orang Aceh harus lebih sejatera daripada orang Jawa karena Aceh memberikan sumbangan sumber daya alam (SDA) yang jauh lebih banyak daripada Jawa. Juga, karena aparat keamanan yang dikirim ke Aceh keanyakannya adalah orang Jawa. Secara keseluruhan, menurut anggapan anggota GAM dan masyarakat yang dililit konflik "Jawa" adalah representasi dari masyarakat Indonesia selain Aceh.

Tindakan aparat di Aceh semasa konflik memang sangat biadab. Konon demikian katanya. Menurut radio bergigi, seorang gadis diperkosa di depan Abu-nya.Di Rumoh Geudong, Pidie, konon penyiksaan oleh aparat terhadap anggota GAM yang melanggar HAM manapun sering berlaku.

Para pemuda sering dijemur betelanjang dada di atas aspal di bawah terik siang menyengat. Biasanya ini dilakukan saat aparat melakukan pengejaran terhadap GAM, namun mereka berhasil lolos kembali ke hutan.

Seorang supir angkutan pedesaan, bernama Si Lie Ma'e Inggreh adalah orang pertama yang mampu dan berani mengangkat realita ini ke ranah publik secara kritis. Di tengah pasar Matanggumpangdua dia mengkritik tindakan GAM secara tegas dan suara lantang: "Orang GAM beraninya cuma bunyikan senjata di tengah pemukiman warga, saat aparat akan tiba, mereka lari. Jadilah warga sipil sebagai tumbal".

Memang demikian adanya. Anggota GAM suka membunyikan senjata api di tempat-tempat keramaian warga seperti pasar dan pemukiman. Tentu saja tindakan ini memancing aparat untuk turun dan mencari GAM. Namun GAM pastinya telah terlebih dahulu menghilang ke tengah kepanikan warga bila di pasar dan lari kehitan bila di pemukiman. Di pasar agak lumayan karena aparat yang marah hanya melampiaskan kemarahannya dengan menembaki kaca-kaca toko meskipun tidak jarang banyak warga yang kena peluru nyasar. Parahnya bila GAM memancing di perkampungan, maka aparat, yang biasanya Brimob suka turun ke kampung sumber bunyi ledakan senjata dan menggeledah semua rumah serta memaksa keluar semua laki-laki kecuali anak-anak dan tua renta. Tidak jarang mereka keliru dengan memaksa keluar orang stres yang telah sakit bertahun-tahun. Orang stres seperti ini biasanya dirantai dan dipasung. Melihat rantai dan pasungan, aparat menemukan pemandanga yang sangat dramatis. Mereka berasumsi macam-macam: Mungkin dia adalah GAM yang ditangkap sendiri oleh keluagranya lalu dirantai sambil menunggu aparat yang menjemput; mungkin dia adalah GAM yang terlebih dahulu ditangkap teman aparat lainnya namun belum sempat diboyong ke markas. Sambil memandang dengan seksama wajah orang stres dalam pasungan, mereka juga berasumsi: mungkin ini adalah teman aparat yang ditangkap GAM.

Laki-laki dewasa yang dipaksa keluar rumah dibariskan di suatu tempat dan diperiksai KTP masing-masing. Musibah bila: satu, dia beralamat pada desa-desa yang digaris merah oleh aparat. Dua, tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Masalah kedua ini pernah dialami Daud. Saat para pemuda dibariskan  di pinggir jalan dekat sebuah sungai, mereka diinterogasi. Karena mereka membuat bingung aparat, mereka dibawa ke bibir sungai. Dengan menghadap ke sungai, mereka diperintahkan berjalan beberapa langkah ke depan. Daud, karena sadar tidak bisa berenang, masing hanya beberapa langkah memasuki air. Padahal teman-temannya yang lain sudah hampir tenggelam seluruh dadanya. Kawan-kawannya bahkan sudah berada hampid di tengah aliran sungai.
                Geram Daud dianggap tidak patuh, seorang aparat membentaknya, "Ke tengah lagi, kau." Maksudnya agar dia bisa berdiri sejajar dengan teman-temannya yang lain.
                Mendengar perintah itu, bergegas Daud menuju bibir sungai. Melihat Daud yang menentang instruksi, aparat spontan marah. Dia ditendang dan terlempar jauh hingga mencapai ke tengah sungai.
                Daud yang tidak mengerti bahasa Indonesia mengira, dia diperintang untuk 'teungeh'. Kata itu dalam bahasa Aceh bermakna naik dari bawah ke atas. Orang yang sedang mandi di kolam atau sungai bila diperintahkan atau ingin menepi disebut 'teungeh'. Mengangkat orang yang jatuh ke dalam sumur lalu di angkat disebut: peu'tengeh'.
                Sekejam itukah aparat yang notebenenya berasal dari Jawa itu? Apa memang demikian karakter masyarakat Jawa? Jawabannya: Tidak!
                Bahkan tentara-tentara yang didaulat untuk menjadi "mesin pembunuh" biasanya dikirim dari luar pulau Jawa. Biasanya dari Maluku atau Nusa Tenggara. Satuan Brimob yang terkenal ganas biasanya mereka yang dari Lampung. Kalau saja mayoritas aparat itu bukan dari Jawa, entah bagaimana lagi nasib orang Aceh.
                Orang Jawa dibesarkan bukan dengan benci, mereka tidak diberi maka dendam. Suku Jawa adalah suku yang paling mudah menerima segala dinamika hidup. Mereka memiliki etos kerja yang luar biasa tinggi.Orang Jawa mampu mengolah hutan rimba menjadi ladang. Mereka menyulap gunung berubah sawah.
                Saat transmigrasi diimplementasikan, perekonomian di Aceh berputar kencang. Pribumi merasakan betul dampak positifnya. Namun ada suatu perbenturan kebudayaan yang tidak dapat diterima masyarakat di sana. Masyarakat Aceh marah karena transmigran dari Jawa tidak berpakaian dan bertata hidup sebagaimana dijalankan masyarakat di sana. Mereka menuding Jawa tidak beragama.
                Jawa tidak beragama? Aku menilai sebuah masyarakat taat beragama atau tidak, salahsatunya, adalah dengan melihat perempuannya berpakaian. Aku naik bus angkutan di Jawa Tengah. Aku semakin terkejut saat melihat hampir semua perempuannya berpakaian sopan dan berjimbab. Semakin kuoerhatikan semakin aku takjub. Kubuat saja model statistik ala-ku sendiri. Aku menghitung perempuan-perempuan dari sati sampai lima. Lalu diantara lima hitungan kujumlahkan berapa orang yang berjilbab, berapa yang tidak. Hasil perhitunganku diantara empat, satu yang tidak. Selanjutnya dua tidak, tiga berjilbab. Dan seterusnya hingga saat kurata-ratakan. Ternyata empat dari lima perempuan Jawa berjilbab. Ini aneh bagiku. Sebab sebelumnya benakku tak dapat diganggu: orang Jawa tak baik dalam beragama. Tapi kesimpulan yang kudapatkan ini merubah derastis pandanganku. Kusadari selama ini aku keliru.
                Aku yang bingung campur keliru terkenang dengan gadis-gadis di Aceh yang memakai jilbab seperti mengisolasi kepala dengan kain. Teringat dengan potongan celana mereka yang menampakkan jelas lekuk selangkangan depan dan belakang. Sesuatu yang telah lama kusadari: kebanyakan perempaun di Acej terpaksa membungkus aurat karena paksaan Perda yang diubah nama: Qanun.
                bagian dari keadaan-keadaan yang membuatku nyaman dan menikmati adalah dikala aku di dalam bus lalu menikmati indahnya pemandangan hutan, gunung-gunung, pedesaan dan bentangan sawah. Saat aku sedang menikmati perkebunan sawit yang kadang-kala membuat hatiku sakit, aku dikejutkan oleh aksi seorang ibu muda yang ketika beberapa saat bus Pelangi memasuki wilayah Sumatera Utara meninggalkan kawasan Tamiang. "Merdeka" katanya sembari menarik kuat jilbab kurungnya dan menghempas-hempaskan rambutnya hingga terurai.
                Pengalaman itu mengingatkan pada perjalanan ke Medan pada saat yang lain ketika aku berada di jok paling belakang bersama seorang wanita Kristen yang anggun dengan jilbab bewarna abu-abu yang setia menutupi bagian atas badannya kecuali wajah. Dia kelihatannya nyaman benar dengan jilbabnya itu. Waktu itu aku tidak sempat menduga dia adalah intel tentara atau bukan meskipun dalam obrolan kami yang sangat menyenangkan itu dia sempat mengaku tinggal di asrama prajuri di Keutapang. Sampai kami berpisah di tengah-tengah kota Medan kulihat dia begitu khidmad dengan jilbabnya. Sempat kutanyakan kenapa dia berjilbab. "Menghormati kaum muslim dan Syariat Islam". Jawabannya begitu sederhana. Tapi aku menemukan makna yang mendalam dibalik kata-katanya.
                Kalau saja tidak karena tidak ingin dia malah akan seperti ibu muda di dalam Pelangi tadi setelah menjadi muslim, akan kuajak dia masuk Islam.
                Duhai indahnya menikmati alam di balik jendela bus yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan tikungan-tikungan patah.
                Karena itu Rafly berseru untuk tidak segera menilai sesuatu sebelum menghampiri danbenar-benar melihat dengan mata kepala sendiri. Di Tanah Jawa aku menemukan manusia-manusia yang ruar biasa gigih bekerja. Aku yakin takkan ada kompetisi yang tidak akan dimenangkan orang Jawa karena keuletan dan ketekunannya. Di pedalaman Jawa akan kita temukan orang-orang yang turun ke ladang melawan dingin di pagi buta. Mereka bekerja di tangah-tengah kabut yang takkan minggat kecuali telah tepat di atas kepala kalaupun cuacanya cerah. melihat tanah Jawa membuat kita teringat tentang dongeng tentang sebuah negeri di Awan.

»»  READMORE...

3. Bukan Awannya. Bukan Airnya

Bukan karena indahnya gunung di waktu petang yang puncaknya mengagumkan karena diselimuti manja awan-awan tipis. Awan-awan seolah-olah enggan, seakan-akan ingin: merangkul puncak gunung yang terlihat olehku melalui kaca jendela mobil yang sedang melaju kencang, namun terasa terbang manja bagaikan layangan yang enggan menerima hembusan agin padahal dia membutuhkannya sebagai penyangga agar tetap melayang, agar tetap terlihat elok. Mobil kurasa terbang manja meski beberapa penumpangnya memegang dada karena supirnya menginjak pedal gas seakan tak waras, sedang bersiul-siul pula mengikuti alunan irama yang diputarnya melalui mp tiga.

Ya Allah, kau kirimkan sakit gigi yang begitu nyeri selama tiga puluh hari tanpa henti hamba dapat amini. Tapi meninggalkan kenangan pulang dari Pidie menumpang angkutan bus mini bewarna merah, hamba tak mampu. Allah, hamba tak kuasa. Hati hamba lemah, lemah karena kau kuatkan selalu ingatan hamba saat ketika jantung hamba seakan melompat ke lantai tempat taruh kaki, badan hamba seketika menggigil semua. Rasanya semua molekol yang menyusun tubuh hamba meleleh bagaikan gunung garam yang disapu gelombang.

Saat mobil hendak berangkat, aku menawarkannya buku Kahlil Gibran. Bagiku buku itu indah sekali, benar-benar menyentuh rasa. Bahkan telah lusuh karena telah berulangkali kukhatami. Dia mengambil buku itu, mencoba membaca beberapa paragraphnya. Lalu dikembalikannya padaku. "Tidak memahami, saya" katanya.


Aku tidak pernah tertarik untuk menafsirkan ucapannya. Akalku lumpuh dan hanya kalimat ucapannya kuangkat di atas kepala, kuisi di atas nampan, kubungkus kain sutera, kutaruh di atas kepala, kubawa ke mana-mana hingga nanti aku mati.

Baru hampir sepuluh tahun kemudian aku dapat mencerna makna kalimat ucapannya. Memang puisi sulit dipahami banyak orang kecuali yang sedang mabuk kepayang dilanda asmara dipanah cinta. Memahami maknanya malah hanya menambah luka, memperparah keadaanku.

Terus-terang sangat ingin aku mengetahui kabar tentang dirimu, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah menjadi guru Bahasa Inggris? Mengajar di mana? Apa kabar suamimu? Apakah dia sudah naik pangkat? Bagaimana-anak-anakmu? Ah, menyebut yang terakhir aku jadi malu pada masyarakat. Untuk apa mengurus anak orang.

Tahukah kamu hingga hari ini dan bahkan besok cintaku padamu takkan mungkin sedikitpun berkurang. Tahukah kamu hari-hariku melihatmu adalah kenyataan terindah dalam hidupku. Tahukah kamu memandang atap rumahmu dari atas bukit yang kulintasi untuk pergi memancing ikan di sungai Peusangan kenikmatannya takkan dapat digantikan dengan seribu milyar bintang-bintang.

Mencintaimu sampai besar anak-cucumu nanti memang terlihat tidak relistis. Namun bukankah sejak big-bang semuanya tak ada yang real.

Aku berhayal ketika kamu tua nanti, suamimu telah mati, anak-anakmu telah pada pulang ke rumah mertuanya, aku, di kamar depan rumahmu yang setiap lebaran selalu kukunjungi saat kita lajang dulu, memelukmu setiap saat. Duhai Tuhan. Inilah jalan paling indah nagi hamba menanti detik-derik kematuan. Menyandarkan kepala pada bahu yang kepalanya jatuh ke bahuku saat aku menatap puncak gunung yang diselimuti awan tipis bewarna putih.

Saat kepalanya jatuh kebahuku aku bergetar dan menggigil, kukira karena awan yang menyapa ujung bukit, kukira karena jernih air sungai Batee Iliek yang berkelok-kelok alirannya karena menabrak kencang batu-batu yang sangat banyak jumlahnya.

Bukan awannya, bukan airnya. Tapi aliran darahmu yang membuat darahku mengalir tak pasti. Dan betapa menyenangkan suatu hari nanti bisa kembali merasakan aliran darahmu dengan aliran darahku.

»»  READMORE...